Home » Makna Hidup » Sejatinya Tidur

Sejatinya Tidur

Manusia yang tidur adalah yang tidak menyadari dan merasakan bahwa diriya tidak pernah bisa terpisah dan terlepas dari Allah, tidak pernah berdiri sendiri secara independen di luar Allah, dan tidak pernah bisa berhadap-hadapan dengan Allah.

Manusia yang tidur adalah yang tidak menyadari dan merasakan ia berada di dunia ini bukan atas kemauannya sendiri, bukan atas pilihannya sendiri, bukan atas pertimbangannya sendiri, dan bukan karena keputusannya sendiri.

Manusia yang tidur adalah yang tidak memahami dan menyadari bahwa segala yang ada, termasuk wujud dirinya, kekuatannya, keinginannya, perasaannya, dan kesadaranya itu adalah milik Allah.

Manusia yang tidur adalah yang tidak memahami dan menyadari bahwa segala yang ada itu menjadi ada karena kehendak Allah; segala peristiwa itu terjadi dan berlangsung karena kehendak Allah.

Manusia yang tidur adalah yang tidak memahami dan menyadari bahwa segala yang ada itu berada dalam kekuasaan Allah; tiada sesuatupun yang berada di luar kehendak dan pengetahuan Allah. Sungguhpun begitu manusia tetap bisa membenarkan bahwa ia sendiri mempunyai kesadaran, perasaan, kekuatan, dan keinginan, yang dengannya dia bisa memilih, memutuskan, dan melakukan apa yang dikehendakinya.

Manausia yang bangun adalah yang bisa memahami dan merasakan kekuatan Allah yang tidak terbatas, kemudian bisa menyadari bahwa tiada kekuatan kecuali kekuatan Allah yang tidak terbatas.

Manusia yang bangun adalah yang bisa merasa bergerak dengan kekuatan Allah, merasa digerakkan oleh Allah, merasa diberi petunjuk oleh Allah, dibimbing Allah, dituntun Allah, ditolong Allah, dan merasa dilindungi oleh Allah, sehingga ia merasa tenang, senang, bersemangat, optimis, dan berharap penuh pada karunia Allah.

Itulah sebabnya mengetahui dan mengenal Allah itu merupakan keharusan mutlak bagi manusia yang ingin bangun dari tidur lelapnya di alam bendawi, yang mimpi-mimpinya adalah merasa bisa hidup sendiri, bergerak sendiri, beraktifitas sendiri, merasa khawatir, cemas, takut, gelisah, menderita, tersiksa, bingung, dan stress.

Yang harus dilakukan manusia yang tidur bukan mengubah mimpi-mimpinya, tetapi ia harus bangun dari tidurnya, sehingga ia bisa memahami dan merasakan realitas yang sebenarnya, yaitu Realitas Allah yang mutlak, yang tidak terbatas, yang berdiri sendiri, Yang Esa, dan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya.

Itulah kenyataan yang sebenarnya. Semoga Allah memudahkan kita untuk bisa memahaminya. Aamiin.

Facebook Comments

Pages